FiRsTaViNa's posts with tag: children

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryKarena Lapar, Anak SD Gantung DiriFeb 26, '08 11:57 PM
for everyone
What's wrong with parents?? What's wrong with us???? Children are supposed to be nurtured with love and attentions--and not to mention, their basic needs such as food and caring parents. Not only money and cash..!

This is a hard slap for all of us.. This MUST NEVER happen, ever again!!

Folks, mungkin kita juga memiliki keterbatasan dari segi finansial atau apapun lah, sehingga tidak dapat membantu mereka yang benar-benar membutuhkan secara fisik. Tapi, kita masih bisa berdoa kan? Lalu, doakanlah anak-anak Indonesia dan anak-anak seluruh dunia, yang hidupnya tidak seberuntung kita
..

Ketika kita makan, please ingat mereka (the children) yang tidak bisa menikmati makan layak seperti yang kita makan. Nikmati makanan selagi kita masih bisa menikmatinya, lalu bersyukurlah! Kemudian, doakanlah mereka agar bisa menikmati makanan bergizi seperti yang kita makan.

Dan, kalau kita bisa berbuat sesuatu karena punya kuasa dan harta, do something!! Lend your hands to help them and keep praying for them all..

Of course God takes care of the children, but God also wants to see us, do we really care? Now... do we???
______________________
* foto: dari situs Mira Costa College


LAPAR, ANAK SD GANTUNG DIRI
muhammad abd, 26 Februari 2008, jam 11:11:13

Magetan-Surya. Heran melihat Teguh Miswadi, 11, tidak masuk sekolah sejak Senin (18/2), Sujarwo menjenguk salah-satu murid pintarnya itu kemarin. Pak guru Sujarwo, 45, khawatir sakit maag Teguh kambuh, dan dia ingin membawanya ke Puskesmas.

Namun, tiba di rumah Teguh yang tinggal bersama neneknya di Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kab. Magetan, Sujarwo terkejut bukan kepalang. Di sebuah kamar yang tak terkunci di rumah setengah kayu dan setengah bambu itu, Sujarwo melihat siswa kesayangannya tergantung kaku. Teguh sudah tak bernyawa. Teguh bunuh diri.

"Seutas tali tampar biru menjerat lehernya," kata Sujarwo saat ditemui Selasa (19/2). Tali itu diikatkan pada blandar atau kayu penopang atap.

Menurut Sujarwo, Teguh gelap mata, sangat mungkin karena tidak tahan akan rasa sakit yang menyerang perut. Maag itu sering membuatnya mengerang. Penyakit ini seharusnya dilawan dengan makan teratur dan bergizi. Tapi, justru itulah yang tak mungkin didapatkan.

Beberapa tetangga membenarkan Teguh hanya makan satu kali sehari. Kondisi Teguh yang tinggal hanya berdua dengan neneknya yang renta, memang sangat memprihatinkan. Siswa kelas 5 SDN Pupus 02, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan ini sering mengeluh sakit perut.

"Teguh menderita sakit maag akut sejak cukup lama dan.tak ada yang memperhatikan secara penuh sakitnya, termasuk kebutuhan makannya," tutur Sujarwo dengan nada prihatin.

Dengan kondisi keluarga Teguh yang miskin, makan sebagai kebutuhan paling dasar tampaknya memang tak sanggup dipenuhi keluarganya. Teguh tinggal bersama Mbah Ginah, 76, neneknya yang buta di RT 2 RW 7 No 672 Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan.

"Sebetulnya tidak ada yang aneh. Anak itu mudah bergaul dengan teman sebayanya dan tergolong cerdas. Hanya, dia sering tiba-tiba terdiam," kata Sukarni, 35, tetangga Mbah Ginah.

Baru ketika bocah ini nekat gantung diri, orang-orang dewasa di sekitarnya melek. Betapa tersiksanya Teguh yang hanya bisa mengisi perut sekali sehari. Bahkan sebelum meregang nyawa, dia diduga sangat kesakitan. Ini terlihat dari tas sekolah, buku-buku, sepatu, serta seragam sekolah yang ada di bawahnya berantakan.

Sangat mungkin Teguh yang mengenakan kaus hijau dan celana jins biru ini berkelojotan menahan sakit.

Menurut Sukarni, Mbah Ginah menjadi satu-satunya orang yang dianggap paling bisa memberi perhatian pada Teguh. Tetapi, karena sudah tak bisa melihat, Mbah Ginah memiliki keterbatasan. Selain itu, kemiskinan selalu saja menjadi sandungan.

Bahkan ketika bocah malang ini tinggal bersama ayahnya, Suwarno, 41, dia juga tidak mendapat perhatian apalagi dirawat layaknya seorang anak. Lagi-lagi kemiskinan yang membuat keluarga kecil ini berantakan.

Kata sejumlah tetangganya, Suwarno harus berangkat ke sawah sebagai buruh tani usai subuh dan kembali ke rumah menjelang senja. Ibu Teguh, Supartinah, 38, telah pergi merantau ke Sumatera sejak Teguh masih kecil.

Hingga kini Supartinah tidak pernah kembali, sehingga tak ada yang sekadar menyapa apakah bocah ini sudah makan atau belum, apakah di rumah ada yang bisa dimakan atau tidak.

"Teguh kemudian memilih tinggal bersama Mbah Ginah yang tinggalnya masih sedesa dengan ayahnya. Meski sama-sama miskin, mbah yang buta ini lebih telaten," kata Sukarni.

Teguh memilih mengakhiri rasa sakit dan kemiskinan itu dengan caranya sendiri. Bayu, 11, teman sebangku Teguh di kelas, menangis mendengar teman belajar dan teman bermainnya meninggal.

Menurut Bayu, nilai pelajaran Teguh yang duduk di bangku terdepan ini bagus-bagus. "Selalu 7 dan 8. Dia juga mampu menirukan semua bentuk lukisan maupun gambar di atas kertas," kata Bayu.

Bayu ingat, ketika bermain bersama, Teguh sudah berpesan mulai Senin (18/2) tidak masuk sekolah lagi. "Sabtu lalu dia bilang sakit maagnya kambuh," tuturnya.

Setelah memastikan sebab kematian, Kapolsek Lembeyan, AKP Subagyo langsung menyerahkan jasad Teguh kepada keluarga untuk dimakamkan atas permintaan keluarga.

Ayahnya, Suwarno, tak bisa dimintai keterangan karena pingsan setelah melihat Teguh meninggal.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help